Pratinjau

1 Nov 2012

Memonitor Level Muka Air Tanah


Untuk melestarikan ketersediaan air tanah, kedua alat hasil penelitian Kenda Research dapat digunakan untuk memonitor dan mendata level muka air tanah ketika dieksplorasi lebih dalam, sehingga dari situ akan ketahuan dan konservasi air tanah dapat dilakukan lebih mudah.

Arikenda Natadikarta dari Kenda Research mengatakan semakin lama kecenderungan permukaan air tanah semakin menurun yang semula posisinya berada di 50 meter kini makin lama makin turun. Artinya, cadangan air didalam tanah semakin sedikit. Dengan kondisi air yang semakin dalam itu, secara langsung bisa mencerminkan cadangan air didalam tanah menipis.

Cycal-3 water level monitoring berfungsi untuk memantau level muka air tanah, dimana kita bisa mengetahui kedalaman air disuatu titik. Dengan menggunakan sensor yang dimasukkan ke dalam sumur, sensor ini akan membaca perubahan level air yang kemudian diterjemahkan ke dalam grafik.

Penurunan muka air berlangsung setiap hari dari mulai jam berapa sampai jam berapa. Itu mencerminkan kebiasaan menyedot air yang dilakukan oleh industri atau masyarakat kapan saja. Jikaini termonitor maka akan dapat diatur, kapan secara bergantian pengguna dapat menyedot air.

“Besarnya penurunan bisa kelihatan dari grafik tersebut. Tiap periode tertentu alat ini akan mengirim secara live data ke server. Selain itu, waktu pembacaan dan pengirimannya pun bisa diatur,” tegas Dedi Marhenda Senior System Architect Kenda Research pada siaran Iptek Voice, 16 Agustus 2012.

Alat ini sudah digunakan di beberapa tempat seperti Bandung, Bogor, Jakarta, Banten, Sulawesi, dan lain-lain. Khusus di Bandung yang sudah memanfaatkan alat ini diantaranya Dinas Pertambangan dan Energi.

Ketika kita sudah mengetahui bagaimana keadaan air tanah, maka tindakan selanjutnya adalah memonitor pengambilan air tanah tersebut. Watermeter Data Logging, menghasilkan data pengambilan jumlah air tanah dari tiap sumur dalam satu hari.

“Dalam UU sudah diatur setiap perusahaan yang mengambil ari tanah itu dibatasi perharinya, per sumur berapa diambil perharinya. Kami membantu pemerintah mengawasi pengambilan air tanah tersebut. Kebanyakan yang menggunakan adalah industri, perhotelan dan instansi besar. Dari pengamatan kami perusahaan itu kan pemakaiannya dibatasi, faktanya dilapangan setelah kami lihat datanya pemakaian mereka jauh dlebih dari itu untuk satu sumur. Kami berharap dengan data-data dari alat kami ini ditindaklanjuti oleh pihak terkait untuk menindak perushaan yang mengambil air berlebih seperti itu,” kata Dedi.

Sumber:http://www.ristek.go.id

No comments :